Saturday, July 16, 2011

Suamiku Selingkuh Di Facebook



Sebut saja namaku Nina (36th), suamiku ipank (39th). Kami sudah menikah 13 tahun dan dikaruniai seorang anak. Hubungan rumah tangga kami baik-baik saja meski suamiku 3 tahun ini nganggur, itu tidak masalah bagiku toh kebutuhan rumah tangga masih terpenuhi. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan di rumah akulah penopang rumah tangga, segala tetek bengek pengeluaran berasal dariku.

Selama aku bekerja di siang hari, mas Ipang mengisi waktu dengan bermain facebook, katanya agar tidak bosan dan siapa tahu dapat informasi kerja dari teman-teman. Sebenarnya aku tidak pernah melarang dia untuk mengenal siapapun tapi ternyata kepercayaanku itu disalah gunakan olehnya. Belakangan aku sadar kalau suamiku menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi yang dikenalnya di Facebook.

Gadis itu masih satu kota dengan kami dan berstatus mahasiswi semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta. O iya di Facebook, suamiku selalu mengaku bujangan kepada siapapun yang dia kenal. Dari saling sapa di Facebook mereka akhirnya berpacaran. Bahkan teman-teman cewek itu dan teman-teman suamiku tahu mereka berpacaran. Dari Facebook mereka saling telponan dan sms-an, bahkan suamiku jarang tidur malam denganku karena tiap malam dia online sampai pagi.

Suatu hari secara tidak sengaja aku mendapati Hp suamiku yang masih aktif berada di genggamannya. Saat itu suamiku tertidur di depan TV dan Hp-nya sedang tidak terpassword. Kulihat history telpon dan sms-nya dan dari situ aku tahu semua. Ternyata selama ini aku dibohongi mentah-mentah. Padahal selama dia nganggur aku yang menanggung semua biaya hidup rumah tangga termasuk pulsa untuk dia. Tentu saja aku kecewa, rasanya pengen nangis.

Dengan berbagai alasan dia mengelak, katanya semuanya hanyalah hubungan maya dan aku tetap istrinya. Dia berjanji dan aku percaya.. bodohnya aku, janjinya untuk tidak mengulangi hanya bertahan satu minggu. Aku kembali menemukan Hp-nya yang masih aktif saat dia tertidur.. dan dia kembali beralasan dan berjanji. Tuhan, Lemahnya diriku..

Kadang kusesali pernikahan ini. Untuk apa menikah kalau derita yang harus di dapat. Satu-satunya yang membuatku tegar adalah anak semata wayangku. Aku mandiri, aku bisa meninggalkan suamiku kapanpun aku mau, toh selama ini akulah yang membiayai semua pengeluaran rumah tangga.. bukan suamiku. Tapi aku tidak ingin anakku menderita dan menjadi broken home karena orang tua yang bercerai.

Kali ketiga kudapati Hp suamiku yang aktif, kembali saat dia tertidur, kulihat lampu notifikasinya berkedip-kedip karena ada panggilan masuk. Kuambil Hpnya, ternyata si pacar mahasiswinya yang nelpon, tapi begitu kuangkat langsung dimatiin. Karena posisi Hp sedang aktif aku bisa telpon balik ke cewek tersebut. Aku bicara dengannya sebagai sesama wanita dan akhirnya aku tahu kalau suamiku menyebutku sebagai mantan pacar yang diputus karena selingkuh dan ingin balik lagi tapi dia tidak mau dan hanya cinta pada si gadis mahasiswi ini. Kukatakan pada gadis itu, silahkan ambil suamiku karena aku ikhlas melepas kalau dia mau.

Ceritaku diatas adalah kisah setahun yang lalu. Hari-hariku kini berjalan biasa, lambat dan aku merasa kosong.. entahlah. Ruang di hati yang dulu kupersembahkan buat suamiku tercinta kini terasa kosong. Meskipun suamiku mengaku sudah putus dengan mahasiswi itu, jujur aku tidak bisa percaya lagi padanya. Orang bilang hati yang terluka susah dicari obatnya, barangkali itu yang kurasakan, sakit hati. Apalagi Hp suamiku masih terpassword, itu yang membuat aku tidak yakin mereka sudah tidak berhubungan lagi.

Suamiku.. kau orang yang tidak bisa diatur, egois, tidak bertanggung jawab. Aku sudah lupa kenapa dulu mau saja jadi istrimu.. aku bingung.

Pembaca ….apa yang harus aku lakukan??? jika ada saran please bantu aku dan aku akan berterimakasih sekali.

1 comment:

  1. Salam kenal,tenang,sabar,berserah penuh pd Tuhan itu yg terpenting.ajak bicara suami baik2 tahan emosi.cari tetua yg bisa di ajak bicara dan netral, minta kekuatan pd Tuhan dlm menghadapi pergumulan ini, beri ketenangan jiwa pd anak semata wayang utk tdk terlalu ikut campur urusan ortu, sikapi masalah ini dgn hati lapang dada, saya ikut mendoakan semoga ada jalan keluar yg terbaik ok, gbu.

    ReplyDelete